( Indef ) Aturan Cukai Hasil Tembakau Tak Optimal Dongkrak Penerimaan Negara

HYMAR – Sigaret Kretek Mesin ( SKM )

Institute for Development of Economics and Finance ( Indef ) menilai penetapan tarif cukai hasil tembakau tidak efektif dalam mendongkrak penerimaan negara.

Sejumlah celah yang ada dalam berbagai peraturan tersebut membuat penerimaan negara dan pengendalian konsumsi rokok tidak optimal.

Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad menjelaskan ada tiga temuan utama dari hasil kajian Indef terkait kebijakan cukai rokok. Struktur cukai saat ini masih belum mengakomodir persaingan yang berkeadilan dan cenderung memiliki celah yang mampu di manfaatkan.

PMK 146/2017 yang di revisi menjadi PMK 156/2018 telah membuat golongan tarif cukai rokok berdasarkan jenisnya yaitu sigaret kretek mesin ( SKM ), sigaret putih mesin ( SPM ), dan sigaret kretek tangan ( SKT ). Golongan tarif tersebut disusun berdasarkan produksi untuk membedakan perusahaan besar dan kecil.

Namun, temuan yang ada saat ini menunjukkan perusahaan besar masih bersaing dengan perusahaan kecil.

HYMAR – Sigaret Putih Mesin ( SPM )

“Golongan tarif berdasarkan jumlah produksi cukup berpengaruh terhadap tingkat persaingan berkeadilan,” kata Tauhid dalam keterangannya.

Dari hasil penelitian sampai April 2019, Indef menemukan bahwa dari tujuh perusahaan rokok multinasional, terdapat indikasi pelaku industri besar yang memproduksi dalam jumlah banyak membayar tarif cukai rokok pada golongan rendah.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, Menengah, telah mengatur bahwa perusahaan dengan penjualan di atas Rp 50 miliar per tahun termasuk kategori usaha besar.

Namun dalam Undang-Undang Cukai Nomor 39 Tahun 2007 serta Peraturan Mentri Keuangan ( PMK ) sebagai turunanya tidak terdapat kategori soal skala usaha industri rokok. Skala usaha industri rokok hanya mengacu pada jumlah produk.

Keberadaan ” Diskon Rokok ” yang menyalahi konsep cukai sebagai instrumen pengendalian dan berpotensi membuka peluang persaingan yang tidak berkeadilan. Tauhid Mengatakan diskon rokok terjadi salah satunya akibat level playing field yang tidak setara.

HYMAR – Sigaret Kreten Tangan ( SKT )

Dari 1.327 merek rokok yang di teliti pada April 2019 sebanyak 46,8 persen diskon terjadi pada sigaret kretek mesin yang membayar tarif cukai golongan yang rendah.

” Diskon banyak dilakukan oleh pelaku dengan tingkat persaingan besar,” ujar Tauhid.

Adanya potensi optimalisasi pemerimaan negara dari pajak penghasilan rokok hingga Rp 1,73 triliun, jika kebijakan ini di kaji ulang pada tahun ini. Rinciannya, pajak penghasilan dari rokok yang dijual 85 persen di bawah HJE sebesar Rp 467 miliar dan pajak penghasilan dari kebijakan HTP antara 85 sampai 100 persen terhadap HJE sebesar Rp 1,26 triliun.

Berdasarkan temuan di atas Tauhid menjelaskan Indef mengajukan tiga rekomendasi kepada pemerintah.

Pertama, melakukan langkah korektif dengan mengkaji kembali struktur tarif cukai.

Kedua, menempatkan instrumen ” Tegas ” pada produsen rokok yang memanfaatkan batasan produksi dengan cara penciptaan merek baru dan afiliasi produksi.

Ketiga, menerapkan menerapkan kebijakan HTP sama dengan HJE atau mempersempit wilayah survei dari saat ini sebanyak 40 kota.

HYMAR – Diskon Rokok

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

PES 2020 Mobile akan segera di rilis.

Thu Aug 29 , 2019
Konami, Pengembang game asal Jepang ini akan merilis game sepak bola Pro Evolution Soccer ( PES ) untuk mobile smartphone dalam waktu dekat. Pembaruan seluler eFootball PES 2020 mewakili langkah baru lainnya untuk mewujudkan tujuan Konami dalam memberikan simulasi sepakbola kompetitif paling mendalam yang pernah di buat para penggemar. Ketersediaan […]
PES 2020 Mobile akan segera di rilis.